Tuesday, January 17, 2012

Resolusi dan Fakta


Setiap kali pergantian tahun, resolusi bagi sebagian orang adalah sebuah hal yang harus dibuat dan dikerjakan. Kadangkala resolusi itu tergantung sepenuhnya pada usaha kita, tapi sebagian lagi tergantung pada situasi yang memang tidak bisa kita kendalikan. Salah satu resolusi saya di tahun ini adalah sehat selama 365 hari di tahun 2012 ini. Nyatanya sejak pergantian tahun, saya sakit demam, flu, batuk, sakit kepala selama sedikitnya dua minggu. Sekarang pun saat menulis postingan ini, saya masih flu. Rasanya ironis mengingat resolusi yang saya buat berhubungan erat dengan kesehatan. Nyatanya sejak hari pertama di tahun yang baru, resolusi saya jelas-jelas tidak terwujud. Bukan awal yang menjanjikan untuk memulai tahun ini. Membuktikan bahwa resolusi bisa terwujud, tidak sepenuhnya tergantung pada usaha kita. 





Tentu saja, saya tahu untuk menjaga kesehatan, saya perlu mengubah gaya hidup saya yang ritmenya cenderung berantakan. Itu sebabnya kini saya menghindari kata-kata motivasi yang cenderung membuat orang jadi workaholic. Masih karena imbas kalimat motivasi yang pernah sangat mempengaruhi saya di waktu-waktu yang silam, sampai kini pun saya cenderung jadi insomnia kalau merasa belum mengerjakan sesuatu yang berarti selama sehari itu. Akibatnya saya jadi terbiasa tidur di pagi hari dan hanya tidur beberapa jam, karena beberapa jam berikutnya saya sudah harus memulai aktivitas saya. 





Kadang saya merasa semua kalimat motivasi yang dilontarkan para motivator tak lebih dari sebuah pembodohan. Hampir semuanya menitikberatkan pada kerja keras. Tanpa sadar kita jadi terpola untuk bekerja dan berusaha terlalu keras, lupa istirahat, lupa rekreasi, lupa rileks, dan akhirnya lupa menjaga kesehatan. Hampir semuanya hanya menitikberatkan pada kesuksesan, tapi berapa banyak yang menyuarakan keseimbangan? 





Sebagian besar orang hari ini malah jadi merasa hidupnya tidak berarti kalau dia belum berprestasi. Semua orang ingin menjadi pemenang, dan kadang harga yang dia bayar terlalu mahal dan tidak sebanding dengan pencapaiannya. Benarkah eksistensi hidup kita hanya bergantung pada pencapaian kita? 





Saya jadi teringat salah satu eks murid saya (saat dulu saya masih menjadi guru). Eks murid saya ini tidak keberatan tidak menjadi juara kelas. Dia tidak ingin seperti teman sekelasnya yang hampir seluruh harinya dihabiskan untuk belajar hingga tidak punya waktu untuk bermain dengan adiknya. Betapa menyentuh bahwa anak usia dua belas tahun ternyata membuat pilihan yang lebih bijaksana ketimbang orang dewasa hari ini. Sementara masih ada saja orang tua yang menginginkan anak super, memaksa anaknya mengikuti berbagai kursus dan tambahan pelajaran untuk memastikan anaknya menjadi juara kelas dan menganggap diri mereka orang tua yang peduli pada pendidikan anaknya. Berikutnya saat anak mereka gagal mencapai tujuan yang mereka tetapkan, mereka akan memarahi anaknya dengan alasan klise bahwa mereka telah membanting tulang untuk membiayai pendidikan anaknya, termasuk kursus ini dan itu, tapi bahwasannya mereka terlupa bagaimana menjadi orang tua. Lupakah mereka bahwa anak bukan cuma butuh pendidikan, tapi juga butuh kasih sayang dari orang tuanya? Apakah bentuk kasih sayang harus selalu dengan menjejali anak dengan tambahan pelajaran? Apakah kasih sayang harus selalu dalam bentuk hadiah dan mainan jika mereka berhasil berprestasi? Tidak bisakah kasih sayang diberikan tanpa syarat, hanya karena anak mereka adalah darah daging mereka, tidak peduli apakah mereka anak berprestasi atau tidak? 





Saya sendiri belum merasakan menjadi orang tua dan mungkin saya lancang menilai mereka seperti itu. Mungkin saya tidak tahu apa pun tentang parenting, tapi saya tahu saya punya intuisi, dan seharusnya semua orang menggunakan intuisi mereka juga, bukan cuma akal sehat atau ego yang berujung pada pembenaran diri. Lupakah orang-orang dewasa itu bahwa hidup tidak melulu hanya untuk mencapai tujuan dan menjadi superior, di antaranya seharusnya masih tersisa ruang untuk menjadi manusia, yang masih butuh cinta dan kebersamaan? 





Saya juga jadi teringat lirik lagu Would You be Happier-nya The Corrs, “Would you be happier if you weren't so untogether? Would the sun shine brighter if you played a bigger part?” Jadi benarkah mentari bersinar lebih cerah jika kita memainkan peran yang lebih besar? Setiap kali saya nyaris terlupa bagaimana menjadi manusia, saya menanyakan hal ini pada diri sendiri. Pada akhirnya saya dikembalikan pada keseimbangan yang saya perlukan. Alangkah sepinya menikmati sukses jika kita tidak tahu harus membaginya dengan siapa, karena pada proses mencapai sukses itu, kita tanpa sadar menyisihkan orang-orang terdekat, karena sebagian besar waktu kita habis untuk berusaha sangat keras mencapai resolusi, tujuan, sukses, dan setumpuk “mimpi” untuk menjadi besar. 





Tentu saja resolusi tetap penting untuk dicapai, tentu saja orang harus memiliki tujuan dan target dalam hidup, tentu saja sukses adalah bagian dari pencapaian dan eksistensi manusia, hanya saja, sisakanlah keseimbangan, jangan lupakan bahwa kita masih manusia. Jangan sampai kita lebih mencintai kesuksesan dan perasaan superior ketimbang diri sendiri dan manusia-manusia lain di sekeliling kita. Bagaimana pun, manusia jauh lebih berharga ketimbang kesuksesan sebesar apa pun itu.